Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

KEATIVA.COM


Blog EntryDec 17, '06 1:09 AM
for everyone

JERITAN TANGIS DALAM BUMI

(diduga suara ruh orang disiksa)

 

Hakikat ruh adalah rahasia Allah SWT dan dia beritahukan secara global kepada kita baik melalui kalamnya maupun sabda Rasulullah SAW. Karena kegaiban urusannya sehingga banyak pendapat berkenaan dengannnya termasuk dimana tempatnya setelah meninggalkan jasad. Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah, bahwa roh mukminin di Iliyyin dengan ruh orang-orang kafir di Sijjin.

Sebagaimana dinukilkan Ibnu Qoyimah Jauziah  dalam kitab Arruh. Salman Alfarisi Ra berkata: Arwah  mukminin berada di barzah bumi pergi kemana pun sekehendaknya dan arwah orang-orang kafir di Sijjin. Dinukilkan juga oleh Ibnu Qoyimah Al Jauziah dalam kitab yang sama, Imam Thabrani Ra mengatakan, dari  Dhamrah bin Habib Ra, Nabi SAW ditanya tentang arwah orang-orang mukmin. Rasulullah SAW bersabda: di dalam burung–burung hijau  beristirahat di surga dimanapun mereka tinggal. Mereka bertanya kepada Rasulullah SAW, dimanakah ruh orang-orang kafir? Beliau bersabda: ditahan di Sijjin.

Dalam kitab lain riwayat Abu Hurairah disebutkan: Dari Abi Hurairah Ra  Rasulullah SAW bercerita tentang pencabutan ruh. Beliau SAW bersabda tentang pencabutan ruh orang kafir, maka keluarlah ruh itu seperti bau bangkai yang paling busuk. Mereka yakni para malaikat membawanya ke pintu bumi. Mereka berkata betapa busuknya bau ini,  setiap kali mereka mendatangi bagian bumi mereka selalu mengatakan perkataan itu sampai mereka bawa ke tempat arwah orang-orang kafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hiban  dan Alhakim.  Abdullah bin Amrbin Ash Ra berkata: arwah orang kafir berada di lapisan bumi ke tujuh. Demikian diuraikan dalam kitab Attakhrif Minannaar.

Iman syututi Ra menukilkan dalam kitabnya Abdulmuttur. Katadah Ra berkata, disebutkan kepada kami bahwa Abdullah bin Umar Ra berkata:  bumi paling bawah adalah tempat orang-orang kafir dan amal-ama buruk  mereka. Sedangkan Ibnu Mubarak Ra meriwayatkan  dari Ibu Juraid Ra berkata:  telah sampai padaku bahwa    sijjin adalah bumi yang paling bawah.

Sedangkan Imam  Albaghawii Ra dalam tafsirnya menukilkan riwayat  Barra bin Aziz Ra berkata:  Rasulullah SAW bersabda: Sijjin adalah yang paling bawah dari tujuh lapis bumi dan iliyyun berada di langit ke tujuh di bawah arsy.

Keadaan mereka yang mukmin maupun yang kafir Allah SWT gaibkan, suara siksaan maupun teriakan orang yang disiksa Allah tutup dari  pendengaran  jin dan manusia namun terkadang Allah memperlihatkan dan memperdengarkan juga akeadaan tersebut  pada yang Allah kehendaki. Sebagaimana dikatakan Ibnu Qoyyim Aljauziah dalam kitab Arruh: Melihat api di kubur rseperti melihat malaikat dan jin terkadang  terjadi kepada orang yang Allah kehendaki  untuk memperlihatkan itu kepadanyai.

Yang pasti Allah SWT memperlihatkan orang yang disiksa atau  memperdengarkan saja suara mereka pada Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits tentang Isra Mikraj dsb.

            Dari Abu Umama Albahri Ra berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: tatkala aku tidur datang dua orang lelaki kepadaku,  mereka  memegang lenganku dan membawaku ke sebuah gunung. Mereka berkata, “naiklah!”. Aku berkata: “aku tidak mampu”. Mereka berkata, “sesungguhnya kami akan memudahkannya untukmu.” Akupun naik. Tatkala aku telah sampai di puncak gunung tiba-tiba  aku mendengar  suara yang dahsya. Aku berkata, “suara apa ini?”. Dikatakan, “ini suara teriakan ahli neraka.”  Hal ini bukan hanya Allah berikat kepada Nabi SAW tetapi juga kepada sahabat dan lainnya.

Dalam kitab Ar-Ruh disebutkan, Ibnu Abiddunya Ra menyebutkan dalam kitab Alkubur dari Asyyabi menyebutkan, seseorang bercerita kepada Nabi SAW. Aku melewati Badar tiba-tiba aku melihat seseorang yang keluar dari dalam bumi maka seseorang  memukulnya dengan gada hingga tenggelam  kedalam bumi dan tidak muncul lagi. Maka itulah yang dilakukan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda:  “itu adalah suara Abu Jahal bin Hisyam yang disiksa sampai hari kiamat”. Hal ini tidak hanya terjadi pada jaman Rasulullah SAW saja.

Ibnu Qoyyim Al Jauziah menukilkan dalam kitab Ar-Ruh juga. Dari Urwah Ra berkata tatkala seseorang pengendara berjalan malam antara Makkah dan Madinah, ia  melewati sebuah kuburan, tiba-tiba seorang keluar dari kuburan  terbakar kobaran  api dibelenggu besi. Ia berkata, wahai Abdullah siramkan air. Maka seorang keluar dan berkata  wahai Abdullah, jangan kau siram, wahai Abdullah jangan kausiram jangan kau siram. Penunggang itu pun pingsan dan kendaraannya membawa lari sampai Al Ard. (Al Ard adalah nama tempat dari Makkah dan Madinah). Maka pada paginya rambutnya menjadi putih. Kejadian itu disampaikanc kepada Khalifah Utsman bin Affan Ra, maka beliau melarang seseorang untuk bepergian seorang diri.

Dalam bagian lain Ibnu Qoyyim Jauziah menceritakan, disebutkan dari hadits Sufyan Ra Dawud bin Syahur meriwayatkan dari Abu Khuz’ah kami melewati sebagian mata air antara tempat tinggal kami dan Bashrah. Kami mendengar  ringkikan keledai. Kami tanyakan kepada mereka, “suara ringkikan apakah ini?” Mereka berkata, “ini adalah suara seorang laki-laki yang tinggal di tempat kami. Ibunya membicarakan sesuatu kepadanya. Ia pun berkata kepada ibunya, “meringkiklah sepuasmu”. Maka ketika ia mati terdengar suara ringkikan ini dari kuburnya setiap malam.

Imam Al Baihaki dengan sanadnya menukil riwayat dari Yazid bin Abdillah bin Asyihhir berkata, tatkala seorang berjalan malam di suatu tempat ia sampa di sebuah kuburan. Ia pun mendengar penghuni kuburan meratap, aduh-aduh!  Orang itu berdiri di kubur tsb  dan berkata,  “perbuatanmu telah mempermalukanmu dan kau merasa telah dipermalukan.”

 Maka menjadi hak mutlak Allah SWT untuk memperdengarkan suara dari alam barzah kepada siapapun yang Allah kehendaki, termasuk memperdengarkan suara teriakan arwah yang  disiksa pada orang-orang yang sedang mengadakan pengeboran di Siberia.

Semoga Allah memberi kemampuan kepada kita mengambil i’tibar dari kejadian ini. Berikut adalah cerita tentang mistri suara yang terjadi di Siberia, kesaksian dari Dr. Azzaqof, seorang komunis.

 

Terjemahan bebas sebuah artikel dalam bahasa Inggis:

 

Penemuan terakhir ini adalah penemuan yang sangat mengejutkan pendengarakan kami. Dengan penemuan ini kami banyak  dari peneliti kami berhenti dari pekerjaan ini karena ketakutan.

Pada awalnya kami hanya hendak mendengarkan pergerakan bumi dengan interval tertentu dengan menggunakan supersensitif mikrohone yang dapat masuk dalam bilik-bilik atau  lubang-lubang bumi dan reruntuhan galian.

Pada awalnya kami menyangka suara ini adalah suara gesekan alat-alat kami pada dinding perut bumi,  tetapi suara ini menghancurkan seluruh logika kami. Setelah beberapa  penyesuaian kami berkesimpulan bahwa suara ini berasal dari interior bumi seakan dari perut bumi terhadap ruangan lain yang berbeda dari tempat yang kami gali, Dan dari ruang tersebut kami sangat tidak mempercayaiapa yang  kami dengar. Kami mendengar dari ruang bumi yang lain suara teriakan manusia yang keras dalam kesakitan. Walaupun suara satu didengar kami dapat mendengar ribuan bahkan jutaan latar belakang suara manusia yang sedang  dalam kesakitan.

Setelah menemukan hal yang mencengangkan ini setengah dari peneliti kami berhenti karena takut. Yang sangat mengejutkan kami bagi orang Soviet, setelah suara itu direkam pada malam yang sama keluar semacam gas atau kabut yang terang di lokasi penggalian. Gas dan kabut tsb membentuk pilar-pilar dan  tulisan mirip sayap kelelawar lalu menampakkan sendiri dalam bahasa Rusia yang artinya: Aku telah menaklukkan, aku menundukkan. Tulisan itu muncul di atas awan di Siberia yang gelap. Kejadian itu sngat tidak masuk akal bagi rakyat Soviet seperti sedang diteror.

Beberapa saat setelah itu datang ambulance ke kumpulan orang-orang tsb untuk membawa obatyang dapat menghilangkan memori  dengan singkat sebagai pengobatan dan perawatan terhadap korban yang melihat keajaiban itu.

Sebagai komunis saya tidak percaya adanya surga dan Injil, tapi sebagai ilmuwan sekarang saya percaya adanya neraka. Sangat sulit diungkap dengan kata-kata apa yang kami temukan, apa yang kami  lihat, dan dengar. Dan sekarang kami yakin bahwa kami menggali dekat dekat sekali dengan pintu neraka. Lalu Doktor Azzaqof menyebutkan, mesin penggali itu tiba-tiba berputar dengan sangat cepat ketika telah sampai pada salah satu kening bumi. Temperaturnya menunjukkan hingga dua ribu derajat F. Lalu kami mendengarkan mikrofon ke sana untuk mendengarkan pergerakan bumi tetapi yang terdengar adalah suara jeritan manusia dalam kesempitan.

Pertama kami mengira itu suara mesin, tetapi setelah melakukan kajian ulang suara itu kami dan ternyata adalah suara ribuan bahkan mungkin jutaan manusia yang sedang dalam penyiksaan di perut bumi. Suara temuan Dr. Azzaqof ini tidak lama, hanya kurang lebih 38 detik. Samar-samar pada bagian tengah dan akhir terdengar suara mirip kalimat yang menyerukan “Allahu Akbar...”

 

Rekaman ini juga pernah disiarkan di Radio BBC London namun durasinya lebih pendek dan terdengar kurang jelas karena telah pengalami perekaman berulang-ulang. Temuan suara ini juga bisa diakses di internet dan sumber lain.

Catatan: rekaman ini bukan untuk dipercaya, tetapi sekadar untuk menambah wawasan kita. Allahua’lam.

 

Informasi lebih jauh tentang CD/MP-3 silahkan kontak ke:

 

SANGGAR NARASI

E-mail: tanirejo@plasa.com

Atau jujurpawarto@yahoo.co.id

 

 

 

 

 


Blog EntryNov 1, '06 1:22 AM
for everyone

Malin Kundang dari Batang

HENDAK disebut sebagai siapakah Goenawan Mohamad? Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, penyair dengan segudang penghargaan, budayawan papan atas, atau esais kampiun? "Saya hanya seorang yang dikonstruksi orang lain untuk tidak menjadi penakut, tetapi saya sendiri sebenarnya seorang penakut," kata pria yang lebih dikenal sebagai penulis "Catatan Pinggir" ini di Unika Soegijaprnata Semarang beberapa waktu lalu.

Tentu tidak cukup mengenal penyair yang telah menulis antologi puisi Parikesit, Interlude, Asmaradana, dan Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 dengan sebutan Penakut dengan P kapital.

Sebab sebagaimana catatan Sapardi Djoko Damono dalam esai "Potret Seorang Penyair Muda sebagai Malin Kundang", Goenawan malah menggambarkan diri sebagai Malin Kundang. Hanya, jangan kaget jika penyair itu bilang, "Malin Kundang telah terkutuk, dan tak seorang pun mencoba memahaminya."

Sesungguhnya Goenawan Susatyo Mohamad yang dilahirkan di Batang, 29 Juli 1941, ini tidak terlalu sulit untuk dipahami. Beberapa teman dekat GM -begitu pria santun ini disapa- bisa dengan cepat menggambarkan sosok esais yang telah menghasilkan buku Seks, Sastra, Kita, Kekuasaan dan Kesusastraan, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Kata, Waktu, dan Eksotopi ini. "Ia adalah seorang transit lounger," kata seseorang.

"Ia adalah manusia yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Minggu ini ia bisa berada di Amerika untuk berceramah, mengajar, atau membacakan karya-karyanya. Minggu berikut ia sudah berada di Eropa untuk menjadi juri atau mengunjungi sebuah pameran seni rupa, atau menggarap pertunjukan," ujar yang lain.

Jadi, ketika Goenawan menyebut diri sebagai Malin Kundang, sesungguhnya ia hendak mengatakan manusia itu senantiasa bergerak, berpindah ruang, melesat dari waktu ke waktu, dan tidak pernah terperangkap pada tuah tanah asal, kampung halaman, atau ikatan kebudayaan yang mandek. Karena itu, Ignas Kleden mengingatkan, tak perlu heran jika Goenawan bisa ulang-alik dari penyair ke wartawan atau dari wartawan ke penyair tanpa hambatan.

Goenawan, dengan demikian, adalah sosok yang mudah bermetamorfosis menjadi apa pun sesuai kebutuhan. Dan semua itu dilakukan dengan energi yang disebut Chairil Anwar sebagai "penuh seluruh". Karena itu ia pun total menjadi esais. Total menjadi penyair. Total menjadi wartawan.

Multitalenta

Akan tetapi menganggap Goenawan hanya sebagai penyair, wartawan, atau esais juga sebuah kekeliruan. Belakangan, banyak orang tahu, motivator Komunitas Utan Kayu ini bersama Tony Prabowo dan Jarrad Powel membuat liberetto untuk opera Kali yang dipentaskan di Seatle. Juga bersama Tonny menggarap The King's Witch yang digelar di New York. Malah ia juga mengerjakan teks drama-tari Kali Yuga untuk pementasan bersama Wayan Dibya, Ketut Rina, dan Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California. Bukan hanya itu, ia juga membuat teks untuk pertunjukan wayang kulit Wisanggeni Ki Sujiwo Tedjo, Alap-alap Surtikanti Ki Slamet Gundono, dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo. "Pendek kata, Mas Goen itu manusia komplet," kata Doni Danardono, salah satu kolega.

Manusia komplet? Mungkin. Sebab paling tidak menurut Haidar Bagir dalam "Sekumpulan Tulisan dengan Banyak Sekali 'Barangkali"', GM adalah humanis. "Bukan terutama dalam makna pemujaannya pada apa-apa yang semata rasional, melainkan justru pada keyakinannya bahwa manusia memiliki semacam spiritulaitas -sebutlah hati nurani, berarti dorongan kebaikan- yang memberinya alat memadai untuk mengambil keputusan yang benar, kalau saja ada imbauan yang hampir kepadanya..."

Karena itu akan lebih aman menyebut Goenawan sebagai manusia yang sedang terus-menerus menggugat identitas. Identitas, bagi penyiar yang memperoleh Bakrie Award dan A Teeuw Award ini, adalah sesuatu yang tidak pernah selesai. Karena itu jika hari ini orang menyebut Goenawan sebagai Goenawan, besok bisa saja harus cepat-cepat menyebutnya sebagai Goenawan aksen. Ia adalah Malin Kundang yang juga menggugat kemalinkundangannya sendiri. Ya, seseorang, juga GM, memang tidak akan pernah bisa sempurna untuk dirumuskan dengan satu atau dua kata yang diharapkan oleh khalayak. Ia senantiasa menggambarkan dirinya sendiri dengan cara-cara yang juga tak sepenuhnya mudah dimengerti. GM, dengan demikian, adalah misteri. (Triyanto Triwikromo-35)

Sumber: Suara Merdeka, 22 Oktober 2006.

 


Blog EntryNov 1, '06 1:17 AM
for everyone

Goenawan Mohamad:

Lebaran Tak Identik dangan Kesucian

BANYAK manusia Indonesia yang masih punya ikatan dengan tanah asal tergerak untuk mudik pada saat lebaran. Apakah mereka yang telah menjadi manusia global -senantiasa ulang-alik dari negara satu ke negara lain- memiliki getaran untuk "pulang"? Budayawan Goenawan Mohamad, salah satu manusia global itu, memiliki pandangan menarik tentang "tradisi" yang menyihir banyak orang untuk berdesak-desakan pulang ke kampung itu. Apa pula kenangan penulis buku seri Catatan Pinggir ini tentang lebaran di kampung? Berikut petikan perbincangan dengan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo itu belum lama ini.

Anda jelas-jelas menjadi manusia global. Manusia yang mungkin tidak lagi memiliki getaran yang dahsyat untuk "pulang" ke tanah asal atau ikatan-ikatan kebudayaan lokal. Lalu, apakah lebaran dan mudik, misalnya, masih bermakna dalam kehidupan Anda?

Saya melihat diri saya orang Indonesia, dan hanya "global" dalam arti yang terbatas: saya sering ke luar negeri -tapi "luar negeri" itu tak berarti seluruh penjuru dunia. Saya hanya sering ke Eropa dan Amerika. Ini perlu ditekankan. Banyak kesalahpahaman terjadi karena secara tak sadar kita menganggap yang disebut "global" berarti datang dari Amerika Serikat dan Eropa.

Saya tak pulang ke tempat kelahiran saya, Batang, sebab "pulang" bagi saya -yang sudah lebih dari 40 tahun di Jakarta- bukan lagi ke sana. Sebenarnya "pulang mudik" yang merupakan kelaziman masyarakat kota besar itu bukan pulang ke "tanah asal". Yang penting di situ bukan "tanah" dan "asal", tapi keluarga, terutama orang tua.

Hal ini mungkin disebabkan mereka yang hidup di kota besar dan yang pulang mudik itu umumnya generasi muda yang berurbanisasi -dan sebab itu belum lama di sana, atau bahkan sementara sifatnya. Orang tua mereka, bahkan kadang-kadang pasangan hidup mereka, masih hidup di "udik".

Saya tak termasuk dalam generasi muda itu lagi. Tiga puluh tahun yang lalu, apalagi ketika ibu saya masih hidup dan belum pindah ke Jakarta, saya akan merasa perlu "mudik" bila lebaran datang.

Lebaran identik dengan kembali ke kesucian, kembali ke asal muasal, apakah dengan demikian saat orang beramai-ramai mudik, sesungguhnya mereka sedang melakukan identifikasi terhadap akar?

Di Indonesia, yang justru indah dari lebaran ialah bahwa ia tak identik dengan kesucian. Lebaran adalah pesta, perayaan, kegembiraan, bahkan di sana-sini "kemewahan". Saya kira pulang mudik di sekitar Idul Fitri lebih didorong hasrat berbagi kegembiraan ketimbang menjalankan laku religius -dan yang demikian itu penting bagi kehidupan pribadi maupun sosial. Hanya masyarakat yang bersedia sakit jiwa yang mengharamkan orang berbagi kegembiraan. Manusia adalah makhluk yang bisa berpesta -pesta dalam arti bersukaria bersama-sama, biarpun dalam bentuk yang miskin.

Anda bertanya, apakah para pemudik melakukan "identifikasi terhadap akar"? Saya kira sebagian besar pekerja muda yang pindah ke kota untuk cari nafkah bukanlah mereka yang repot kehilangan "akar". Beda antara "kota" dan "desa" memang besar, tapi kota-kota Indonesia bukanlah wilayah di balik tembok terjal dalam arti budaya. Sejarah kota di Indonesia berbeda dari sejarah kota di Eropa. Seorang pakar sosiologi perkotaan pernah mengatakan, bahwa di sini yang terjadi bukan hanya "urbanisasi" tapi juga "ruralisasi" -pelbagai segmen kehidupan kota malah mencerminkan corak kehidupan desa, dalam soal berkelompok, misalnya.

Energi (kebudayaan) macam apa yang sesungguhnya membuat orang melakukan selebrasi lebaran secara besar-besaran? Mengapa "kepulangan" seakan-akan menjadi ideologi tunggal yang tak bisa dilawan? Apa ia telah menjadi mitos?

Ada yang mengatakan, dorongan mimesis juga terdapat pada manusia: meniru perilaku orang lain. Ada juga yang disebut demonstration effect: kalau tetangga beli mobil BMW, maka saya menirunya, meskipun saya tak akan mati jika tidak; kalau teman saya bawa oleh-oleh ke keluarganya di kampung, saya juga mau berlaku begitu -satu perilaku sosial yang dimanfaatkan dunia periklanan. Kita tak boleh lupa, lebaran dan natalan (seperti sekarang di kota besar "Halloween") sudah jadi desain pemasaran barang dan jasa. Selain itu ada faktor adat istiadat, yang menyebabkan orang merasa tak sendirian.

Setelah pulang ke tanah asal atau ke kesucian, mereka pergi lagi ke "daerah pergolakan" atau ke hal-hal yang sekuler. Bukankah tindakan mudik, dengan demikian, hanya merupakan tindakan pura-pura, ethok-ethok, atau kosmetik belaka?

Saya kira bukan. Lebaran dan "pulang" bisa juga dilihat sebagai jeda. Manusia -makhluk yang bisa berpesta- juga mahluk yang melembagakan istirahat. Setelah bekerja terus menerus selama setahun, setelah berada di "daerah pergolakan" yang Anda sebut, tubuh dan jiwa kita ingin untuk sejenak tak "bergolak".

Apakah identifikasi diri secara kolektif semacam lebaran ini juga dilakukan oleh manusia lain di belahan bumi yang lain?

Ya. Saya lihat itu terjadi di Amerika Serkat, di sekitar Natal dan Thanksgiving Day. Pesawat penuh karena orang pada berkumpul kembali dengan keluarga mereka yang jauh-jauh. Saya tak tahu bagaimana keadaannya di tempat lain.

Hidup sesungguhnya kian praktis dan sekuler. Apakah pada satu masa lebaran pun akan dipandang sebagai sesuatu yang praktis, sekuler, dan tak berkait dengan sublimasi dan kontemplasi?

Seperti sudah saya katakan, di Indonesia ini lebaran tak teramat berkaitan dengan laku religius. Saya tak akan mengatakan bahwa sifatnya "praktis" -sebab pergi serentak berdesak-desak naik kereta api dan bus selama lebih dari enam jam sama sekali bukan tindakan praktis. Juga tak bisa dikatakan "sekuler", sebab dalam tindakan yang paling tidak sakral pun tersirat sesuatu yang "transendental"; dalam maaf memaafkan, misalnya. Bahkan sebagai jeda: dalam Perjanjian Lama, Tuhan memberi 10 perintah kepada Musa, dan salah satunya mengharuskan orang beristirahat bekerja pada hari ketujuh.

Apakah Anda akan mudik? Apakah Anda sebagaimana manusia perkotaan lain justru menciptakan akar baru di tanah yang sekarang diinjak di langit yang kini dijunjung?

Saya sudah jawab di atas: saya sudah 40 tahun hidup di Jakarta. Soal akar - baiklah saya kutip kata-kata seorang filosof: manusia bukan pohon; ia tak hanya punya satu akar.

Apakah kita semua ketika merespons akar budaya sudah jadi Malin Kundang semua?

Legenda Si Malin Kundang pernah saya pakai, dan saya balikkan, untuk menunjukkan bahwa yang disebut "akar" sebenarnya dihadirkan sebagai bagian dari tata simbolis, yang kita terima dan membentuk kita, tapi sebenarnya terjadi karena hubungan kekuasaan. Dalam legenda itu, kekuasaan itu bukan dalam diri sang ibu yang mengutuk Malin Kundang jadi batu, melainkan dalam kekuatan atau kekuasaan yang membuat kutuk itu punya efek, yakni adat, lembaga, agama, yang dijaga oleh para tetua. Jika kita sadari hal ini, kita akan melihat soal "akar" sebagai konstruksi kekuasaan, bukan sesuatu yang suci, kekal, dasar untuk menghakimi.

Ya, dan lebaran jelas telah menjadi identitas yang kadang menenggelamkan kebutuhan orang lain. Etika kedaifan -sebagaimana pernah Anda jelaskan di Unika Soegijapranata Semarang- bisakah digunakan sebagai cara muslim menghormati orang yang tidak berlebaran?

Etika kedaifan yang saya maksudkan misalnya diekspresikan dalam permintaan maaf. Di sana kita mengakui keterbatasan kita. Ucapan minta maaf bagi saya lebih penting ketimbang ucapan selamat atas kemenangan melawan apa yang jasmani. Bagi saya berpuasa justru pengakuan, bahwa yang jasmani justru tak terelakkan; tubuh adalah diri kita yang fana, tak tetap, daif.

Baiklah...setiap orang tentu punya masa lalu. Juga masa lalu lebaran. Apa nostalgia Anda tentang lebaran pada masa kecil?

Di kota kami tiap lebaran ada sesuatu yang istemewa: orang berbondong-bondong pergi menonton perlombaan perahu di sebuah sungai di desa Karangasem. Tapi sebenarnya bukan adu cepat mendayung yang penting. Semangat "yang asyik adalah ikut ramai-ramai, bukan menang atau kalah" mendominasi perlombaan itu -sebab tak pernah jelas siapa pemenang dan tak ada pula piala kejuaraan.

Lagi pula, yang jadi fokus tontonan orang ramai pada hari lebaran itu adalah karnaval para nelayan, sebelum mereka turun ke sungai.

Sejak pukul 10.00i berpuluh regu nelayan berbaris teratur berjalan mengelilingi sebagian kota, mengenakan pakaian yang mirip dengan apa yang mereka lihat di bioskop atau di tempat lain: koboi, pasukan angkatan udara, kelasi, wayang orang, suku Indian, dan entah apa lagi. Saya ingat saya melihat sekelompok nelayan yang membuat kapal terbang tiruan dari kayu dan bambu yang diliputi karet tipis, didorong oleh seregu laki-laki berseragam persis seperti pilot tempur Perang Dunia I.

Kecermatan, ketelatenan, dan keterampilan orang-orang itu dalam mengerjakan itu semua sungguh mengagumkan. Mereka umumnya buruh dan tak terpelajar, tapi mereka bisa membangun suasana bersenang-senang sekali setahun, memanjakan imajinasi dan mengolah kreativitas -seraya mengaitkan diri dengan dunia luas, tidak "Timur" tidak "Barat", di luar dusun mereka.

Pernah saya menyaksikan perlombaan perahu yang disponsori pemerintah di kesultanan Oman pada tahun 1980-an. Bagi saya, keramaian di Batang dulu itu jauh lebih semarak...

Kini semua itu tak ada lagi. Saya tak tahu kenapa. Mungkin karena ekonomi jadi sangat memburuk di tahun akhir 1950-an sampai dengan akhir 1960-an, terutama sejak "ekonomi terpimpin" Bung Karno, hingga para nelayan dan juragan mereka tak mampu lagi membeayai karnaval seperti itu. Mungkin karena sejak zaman "demokrasi terpimpin" dan "Orde Baru" teramat banyak larangan penguasa dan ketegangan politik di tingkat bawah. Mungkin karena ada suara yang menganggap itu semua "pemborosan" dan tak ada hubungannya dengan "ibadah".

Apa pun sebabnya, sesuatu yang berharga hilang: kesempatan dan kebebasan berkreasi di kalangan nelayan miskin itu. Mereka tak lagi menciptakan karnaval, tak lagi menyusun dan melagukan tembang mengiringi keberangkatan perahu ke laut, tak lagi menghias perahu dengan ukiran wayang dan gambar aneka macam -dan tak lagi membentuk grup ketoprak yang mereka mainkan buat tetangga-tetangga mereka.

Saya mengatakan ini dengan sedikit nostalgia - tapi saya kira rasa kehilangan ini sah. (Triyanto Triwikromo-35)

Sumber: Suara Merdeka, 22 Oktober 2006.

 

 


Blog EntryOct 19, '06 12:32 AM
for everyone

Mimpi Sederhana Tentang “Sabana Hati”

Oleh: Kawe Shamudra

 

Sabana hati/ Terlukis goresan belati/ Tak tersentuh/ Tak terbelai/

Kisahkan duka abadi

 

Itulah sepenggal puisi karya seorang siswi SLTA bernama Vies yang termuat dalam kumpulan puisi Sabana Hati, bersama 78 judul lainnyai. Judul buku tersebut barangkali terlalu asing di telinga kita karena hanya beredar untuk kalangan sendiri. Buku mungil nan sederhana itu terbit atas prakarsa seorang guru sastra di sekolahnya. Tampaknya nampu menghadirkan spirit yang cukup tajam. 

Sebuah karya, betapapun sederhananya, tetap punya makna jika direduksi dengan apresiasi yang mendalam dan jujur. Sebuah buku yang ditulis seorang penyair yang belum punya nama, mungkin bisa menjadi pembuka kreatifitas kepenyairan seseorang. Menyimak isinya, buku tersebut boleh jadi akan membuka kesadaran kita bahwa betatapun sederhananya sebuah karya ternyata mampu menjadi bukti keberadaan seseorang.

Siapa tahu Vies kelak mampu mengukir sejarahnya sendiri dalam peta sastra tanah air, bahkan dunia. Bermimpi dulu tidak apa-apa, siapa tahu kelak Vies benar-benar menjadi penyair ternama dan karya pertamanya akan bisa menjadi tonggak sejarah yang tak bisa dilupakan.

Karya tersebut lahir dari proses reduksi dan pergulatan kreatif seorang anak desa yang hobi menulis puisi. Kapanpun waktunya Vies merasa siap untuk menumpahkan perasaannya lewat untaian kata-kata manis. Sepertinya dia tak sanggup membendung aliran ide yang membanjiri otaknya. Ia senantiasa menjadi orang yang gelisah memikirkan banyak hal. Jiwanya memberontak terhadap hal-hal yang dianggap tidak benar. Puisi-puisinya dijiwai oleh semangat spiritualisme. Dan dia amat membenci segala bentuk pengingkaran terhadap kebenaran.

Dari karya-karyanya tercermin sebuah potensi luar biasa, dan tidak semua orang dikaruniai kemampuan menulis puisi secara intens dan dinamis, setidaknya untuk ukuran seusianya.

Tidak semua penyair bisa tabah menghayati proses yang mungkin tidak memberikan kontribusi apa-apa kecuali kepuasan batin. Vies tampaknya menikmati proses itu dengan santai seolah tanpa beban. Ia tidak takut dituduh melakukan perbuatan sia-sia. Ia tidak menyerah pada tantangan, tidak gentar pada cacian dan tidak silau dengan pujian, sebagaimana tergambar dalam prolog puitisnya: Aku tak butuh pujian/ Aku tak butuh sanjungan/ Ku hanya butuh kata bijak/ yang menggugah kreasi tuk beranjak/ Bila kau sudi/ Nikmatilah karyaku ini/ Bila kau benci/ Makilah, aku tak kan marah

Sebagai penyair pemula, ia mencoba mengolah apa yang dilihat, didengar dan dirasakan menjadi untaian kata bermakna. Ia punya cara sendiri untuk mengungkapkan kekaguman pada sesuatu dan kegelisahannya selama menjalani kehidupan.

Lewat puisi-puisinya Vies membidik ragam tema mulai cinta, lingkungan, sosial-religius, sampai persoalan privat. Ia mencoba berimajinasi, mengamati dan melakukan gerakan-gerakan intuitif untuk menangkap pesan-pesan tersembunyi dari sebuah kejadian. Mencoba menyimpulkan dan membuat anasir dari ragam kejadian baik yang dialami sendiri maupun pihak lain. Ia teramat jeli mengamati hal-hal yang di mata orang kebanyakan tampak sederhana, namun baginya sangat bermakna. Misalnya dalam puisi Pipit Kecil yang mampu merekam sebuah pesan tentang kepedihan:

... Sayapnya patah tergores peluru/ Darah meleleh

Nodai bulu-bulunya yang suci

            Suasana kesepian, ngelangut, duka, dan melankolis juga mewarnai puisi-puisi Vies. Misalnya dalam puisi Garis, Untuk Kasih, Di Bebatuan Ini, Buram, Khilaf, Sesal, Menangis, Setia, dan lain-lain. Semua merupakan luapan kekecewaan, sakit hati, penyesalan sekaligus upaya menghibur diri. 

Dalam puisi Garis, ada metafora yang menggambarkan suasana mencekam: Kumulai berani bermain garis/ yang menentukan langkah hidupku

Lurus, melengkung, terpatah/ Berliku

Kumelangkah perlahan/ Tepat diantara dua garis/ Walau sering kubertepi/ Terhenti, tertusuk duri/ Namun tetap kulalui/ Bermain garis/ Bermain kehidupan

Bermain jalan

Tema cinta pun cukup mendominasi. Puluhan judul puisi memakai kata “Cinta” , seolah hendak mengukuhkan hegemoni perasaan orang muda yang sedang kasmaran dan terjebak dalam pusaran cinta semu. Si penyair tampaknya mencoba menangkap sinyal tentang hakikat cinta yang sesungguhnya dan kepada siapa saja cinta harus dikorbankan: pada Tuhan, sesama manusia, pepohonan, atau bahkan pada diri sendiri.

Cintaku...

Tenanglah cintaku/ Damailah dalam persemayamanmu/ Ku hanya bisa lantunkan doa/ Moga sukmamu terpelihara/ Kasihku.../ Tenanglah kasihmu/ Damailah dalam peraduan lelapmu/ Ku hanya mampu menunggu/ Hingga waktu merayuku

 

Anak Petani

Sekadar catatan kecil tentang profil Vies. Gadis ini lahir  4 Agustus 1987 di desa Karangtengah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang Jawa Tengah. Merupakan anak kedua dalam keluarga Ngatip – seorang petani dan guru ngaji – dan Muchasah – seorang penjahit. Tahun 1999 lulus SD Karangtengah 01 kemudian melanjutkan ke MTs Nurul Huda Banyuputih lulus tahun 2002. Selanjutnya masuk Madrasah Aliyah di Mangkang Semarang sambil nyantri. Namun belum genap satu semester tidak kerasan dan pindah ke Madrasah Aliyah NU Limpung, Batang, Jawa Tengah dan lulus tahun 2006.

Aktifitas sampingannya adalah menjahit dan membordir bersama ibunya. Di sekolah dia aktifis berbagai kegiatan seperti OSIS, Pramuka, Majalah Dinding, dan Koperasi Sekolah. Selepas Aliyah dia ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Sastra Jepang. Ia bercita-cita bisa keliling dunia sambil memperkaya wawasan keilmuan dan dapat terus menulis.

            Inilah barangkali mimpi sederhana seorang Vies. Ia kini sedang berangan-angan untuk menjadi penghuni bumi yang selalu peka terhadap keadaan sekelilingnya. Langkah ini jarang dilakukan oleh generasi sebayanya. Ia termasuk sosok muda yang langka dan memiliki nyali serta intuisi kuat untuk memandang kehidupan lewat perspektif lain. Ia dapat diibaratkan sebuah giok di padang sunyi.

            Vies kini tengah menapaki sejarah awal proses kepenyairannya. Yang pasti ia membutuhkan dukungan dari banyak pihak secara proporsional. Rasanya terlalu naif jika bibit segar ini dibiarkan tumbuh liar tanpa ada yang merawatnya. Puisi Sabana Hati yang dijadikan judul kumpulan puisinya tampaknya cukup mewakili karakternya sebagai penyair yang berbakat dan memiliki sensitifitas cukup tinggi.

 

KAWE SHAMUDRA, penulis lepas dan anggota Komunitas pena Batang.

 


Blog EntryOct 19, '06 12:20 AM
for everyone

 

Sawah Kering, Nasi Aking dan Raskin

Oleh: Kawe Shamudra

 

Musim kemarau belum mau beranjak pergi. Lihatlah situasi kanan-kiri jalur pantura, ribuan hektar sawah mengering. Harga beras jadi mahal sedangkan daya beli masyarakat menurun. Yang rugi dan susah bukan hanya para petani/ pemilik lahan, tapi juga komunitas lain, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.

Penduduk yang tinggal di kawasan pegunungan punya kiat khusus untuk mengatasi kerawanan pangan. Jika harga beras mahal, mereka mengonsumsi nasi jagung atau umbi-umbian (singkong, gadung, gembili dan lain-lain). Mereka punya pemahaman logis, dengan mengonsumsi jagung dan umbi-umbian, kebutuhan beras bisa dikurangi.

Namun strategi tersebut hanya bisa dijalani oleh masyarakat yang masih memiliki lahan. Sedangkan bagi masyarakat miskin yang tinggal di kawasan perkotaan yang tak punya lahan, satu-satunya cara untuk bisa makan harus punya uang yang cukup untuk beli beras.

Menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini, apapun alasannya, yang paling menderita adalah kelompok masyarakat miskin berpenghasilan rendah, lebih-lebih yang tidak berpenghasilan sama sekali sementara kebutuhan makan harus terpenuhi tiap hari.

Dari Brebes tersiar kabar, sebagiaan warga Desa Prapag Lor, Kecamatan Losari terpaksa mengonsumsi nasi aking (nasi yang dikeringkan) karena tak mampu membeli beras (Suara Merdeka, 9/9). Berita tersebut hanyalah secuil fakta yang terungkap ke permukaan, dan di balik itu tentu masih ada potret lain yang tak kalah menyedihkan.

Inilah paradoks sosial yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Di negeri yang konon katanya gemah ripah lohjinawi ini, masih ada sekelompok masyarakat yang makan nasi aking. Sungguh ironis dan sangat mengiris-iris rasa kemanusiaan kita.

Dapat dipahami bahwa mengonsumsi nasi aking hanyalah keterpaksaan semata. Dalam kondisi terpaksa, orang bisa makan apa saja: bulgur, ampas singkong bahkan gedebok pisang sekalipun, yang penting perut terganjal.

Persoalan standar gizi dan kesehatan tubuh tidak lagi jadi bahan pertimbangan ketika seseorang sedang terhimpit keadaan. Pakar kesehatan boleh saja menganggap nasi aking sebagai makanan paling buruk, namun bagi warga miskin yang mengonsumsinya, nasi aking adalah rahmat besar untuk menyambung hidup.

Dari dulu problem kemiskinan selalu menyuguhkan kenestapaan. Masyarakat miskin selalu terhimpit ruang geraknya dan kian sesak hidupnya. Bagaimana mereka bisa berpikir soal peningkatan pendidikan, kesehatan dan seabreg tutuntutan hidup lainnya, sedangkan untuk makan saja susah.

Memang, musim kemarau dan sawah kering merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari. Tetapi dampak buruk dari perputaran musim tersebut masih bisa dikurangi jika masyarakat memiliki kesiapan materi, katakanlah tabungan cukup untuk bertahan hidup selama musim paceklik.

Namun bagi masyarakat miskin menabung sering luput dari perhatian. Logikanya, bagaimana bisa menabung kalau penghasilannya jauh di bawah standar. Mereka sudah terbiasa menjalani pola hidup “kerja sehari untuk makan sehari”. Itu masih lumayan. Banyak yang nasibnya lebih buruk, makan tiap hari tapi penghasilannya tipis.

Pemerintah pusat berencana mengimpor beras dengan dalih untuk meringankan beban rakyat. Tak urung, kebijakan ini menuai protes dari masyarakat. Bahkan sejumlah daerah (dengan taring otonominya) mengadakan “perlawanan” dengan menolak masuknya beras impor dengan alasan daerahnya surplus beras.

Orang-orang miskin tidak pernah berdebat soal-soal semacam itu. Mereka tidak peduli apa itu impor, surplus beras, ketahanan pangan, raskin dan seabreg istilah lain yang kedengarannya keren. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana bisa makan dan membeli beras. Persoalan apakah beras itu hasil impor atau hasil panen para petani dalam negeri, semuanya tak masalah. Yang penting harga beras terjangkau.

Program raskin (beras untuk warga miskin) semenjak masa pemerintahan Gus Dur sampai kini masih berjalan. Beras bersubsidi yang dijual Rp. 1000/ kg itu kini semakin laris saja dan jadi rebutan.   Menurut juklak aslinya, beras itu khusus diperuntukkan bagi rakyat miskin mendapat jatah 20 kg/KK. Namun dalam prakteknya masing-masing KK hanya mendapatkan 5 kg karena harus dibagi rata dengan warga miskin lainnya yang namanya tidak terdaftar.

Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, program raskin memang sangat membantu warga miskin yang kesulitan pangan dengan catatan, program tersebut tepat sasaran. Artinya beras murah tersebut benar-benar diterima yang berhak dengan jumlah yang memadai.

Bila perlu jumlah raskin ditambah agar warga miskin benar-benar bisa membeli beras murah itu sesuai dengan kebutuhan tiap bulan. Tidak cuma 5 kg yang hanya bisa dikonsumsi beberapa hari. Rasanya pemerintah perlu meneruskan dan menyempurnakan program raskin agar tidak ada lagi warga yang makan nasi aking. 

 

 


Blog EntryOct 19, '06 12:04 AM
for everyone

 

 

Ekowisata Mangrove

Oleh Kawe Shamudra

           

Tidak lama lagi wilayah Pantura bakal punya hutan bakau (mangrove). Hutan yang menjadi impian banyak orang dan diharapkan mampu mengamankan kawasan pantai dari terpaan abrasi.

Lebih dari itu, kita pun layak bermimpi, suatu saat nanti hutan mangrove di kawasan pantura bisa dijadikan semacam ekowisata yang menarik. Kita percaya, masyarakat merasa senang memandang pantai, namun sedih jika melihat abrasi yang merontokkan bibir pantai. 

Abrasi di wilayah pantura memang telah mengganas. Bisa dibayangkan, dari 80 km panjang pantai di pantura meliputi Brebes, Tegal dan Pekalongan, hampir seluruhnya mengalami abrasi. Di wilayah itu, ratusan ribu hektar lahan tambak milik nelayan hancur. Rumah-rumah penduduk juga ikut tergerus ombak.

Abrasi terparah di Pekalongan terjadi di Pantai Sari, Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, yang telah mengganggu ketenangan hidup sekitar 200 KK.

Jutaan pohon bakau telah ditanam di kawasan Pantura. Di pantai Brebes misalnya, pada tahun 2004 telah ditanam sedikitnya 2,09 juta pohon bakau dalam program rehabilitasi kawasan pantai yang dicanangkan Dinas Pertanian, Kehutanan dan Konservasi Lahan kabupaten setempat.

            Pemkot Tegal juga melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga juga menanam pohon bakau di sepanjang pantai. Dalam setengah tahun terakhir, sekitar 10 ribu bibit tanaman bakau sudah ditanam untuk mengatasi abrasi di wilayah pantai Kota Tegal.

            Departemen kehutanan bekerja sama dengan pemerintah kota Pekalongan dan Paguyuban Masyarakat Pesisir Cinta Lingkungan (PMPCL) juga telah menyiapkan 400.000 benih pohon bakau dan sudah mulai ditanam September 2005 di sepanjang pantai dan sela-sela bangunan penahan gelombang.

Jika tanaman bakau berhasil tumbuh dengan baik (tidak diganggu tangan-tangan jahil), maka bukan hanya masyarakat pesisir yang akan menikmatinya, melainkan masyarakat luas. Apalagi jika kawasan hutan bakau itu dikembangkan menjadi kawasan ekowisata.

Namun kenyataannya, rehabilitasi pantai sampai saat ini belum berhasil secara maksimal. Pasalnya, pertumbuhan tanaman bakau tergolong lambat, sementara proses abrasi di pantai utara sangat cepat. Akibatnya tanaman yang masih kecil tidak mampu menahan terpaan ombak dan hilang tak tentu rimba.

Selain terhambat oleh faktor alam, juga terdapat kendala lain yakni masih kurangnya kesadaran dari masyarakat di sekitar pantai untuk turut merawat tanaman bakau. Lebih tragis lagi, mereka justru menebangi pohon bakau yang telah tumbuh.

            Satu hal yang patut diperhatikan adalah bagaimana menggugah kesadaran  masyarakat agar memiliki kepekaan nurani untuk  menjaga kawasan hutan bakau karena merupakan bagian dari lingkungan yang patut dilindungi.

Hutan mangrove sering juga disebut hutan bakau, hutan payau atau hutan pasang surut, merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut. Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem alam yang bisa dijumpai di wilayah pesisiran.

Ekosistem mangrove mempunyai fungsi penting bagi manusia. Fungsi langsung antara lain melindungi pantai dari amukan gelombang laut, disamping melindungi organisme tertentu seperti udang, ikan, dan kerang-kerangan. Selain itu, tentu saja ada fungsi artistik yang menghibur.

Fungsi terakhir ini sudah saatnya diperhatikan oleh pemerintah setempat. Syukur kawasan tersebut kelak bisa dijadikan semacam gerbang cuci mata (arena rekreasi) bagi masyarakat sekitar maupun luar daerah.

Masyarakat akan terhibur ketika menikmati indahnya panorama rumpun bakau yang tertata rapi di bibir pantai. Inilah makna tersembunyi dari keberadaan hutan bakau yang selama ini barangkali luput dari perhatian.

 

KAWE SHAMUDRA adalah penulis lepas dan anggota Komunitas Pena Batang

 


Blog EntryOct 18, '06 11:41 PM
for everyone

Belajar Malu pada Bang Arman

Oleh: Kawe Shamudra

 

            Arman adalah tokoh asal Pekalongan yang kini bertahta di Jakarta. Selain pejabat, beliau adalah seorang budayawan yang pernah menggeluti macam-macam pekerjaan mulai wartawan, foto model, bintang film, dan pengacara.

Arman tiada lain adalah sapaan akrab Jaksa Agung Abdul Rahmat Saleh. Putra pemilik toko buku terkenal di Pekalongan ini memang dikenal dekat dengan publik. Kalau bicara suka blak-blakan dan tegas.

Terakhir saya ketemu Arman di pendopo lama kabupaten Pekalongan pada penghujung Maret 2005. Saat itu beliau mengisi ceramah dalam forum Muktamar Ahli Thariqah yang dibuka Presiden SBY.

Gaya bicaranya meledak-ledak. Ketika ditanya tentang komitmennya dalam pemberantasan korupsi, Arman dengan tegas mengatakan akan berjuang secara optimal untuk memberantas korupsi di Indonesia. Bukan sekadar memberantas, tapi juga mempermalukan para koruptor, jika mereka memang masih memiliki rasa malu.

Namun seandainya mereka sudah tidak memiliki rasa malu, setidaknya masyarakat bisa mengambil pelajaran dari sepak terjang para koruptor yang selama ini tak pernah hidup tenang karena dililit hutang, diburu dan dikejar-kejar aparat. Siapakah  tidak malu hidup dalam situasi sempit seperti itu?

Kalau penyair Taufiq Ismail, yang juga orang Pekalongan, mengaku malu jadi orang Indonesia, maka secara tersirat Arman ingin mengajak masyarakat untuk malu jadi koruptor.

Kini Jaksa Agung benar-benar sedang menyiapkan paket khusus berupa tontotan di layar kaca untuk mendidik masyarakat agar tidak meniru jejak koruptor. Sebagaimana diberitakan Suara Merdeka (5/8) tentang rencana penayangan wajah koruptor di televisi yang diprakarsai Jaksa Agung.

Nampaknya Arman sedang menciptakan jurus jitu untuk menohok para koruptor lewat jalur seni yang kebetulan sudah digelutinya sejak muda. Program tayangan wajah koruptor pun rencananya akan diberi titel Koruptainmen.

Dalam acara tersebut, gigi koruptor yang kuning dan berbau busuk itu akan ditampilkan. Semua jejak koruptor bakal dilacak, mulai dari riwayat hidup, tempat tinggal bahkan lokasi persembunyian mereka.

Arman yang pernah membintangi tidak kurang dari sepuluh judul film itu memang ingin serius menghajar koruptor yang selama ini hidup bebas dalam pelariannya, misalnya Marimutu Sinivasan (tersangka kasus Bank Muamalat), Edy Tansil (pembobol Bapindo 1,3 Triliyun), Maria Pauline Lumowa (pencuri BNI Rp. 1,7 Triliyun) dan masih banyak lagi.

Masyarakat nantinya akan tahu sepak terjang para koruptor dan bagaimana nasib mereka setelah menggasak uang rakyat. Mereka tentunya tidak tenang hidupnya karena terusmenerus dikejar aparat.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari tayangan Koruptainmen. Yang pasti masyarakat tahu bahwa korupsi adalah perbuatan busuk, terkutuk dan memalukan. Harus diakui bahwa para koruptor, selain telah mempermalukan diri sendiri dan kerabatnya, juga telah membuat malu bangsa Indonesia. Indonesia masuk urutan ke-3 negeri terkorup versi Transparasi Internasional.

Persoalan malu inilah yang sampai sekarang masih jadi tanda Tanya besar. Budaya malu kini semakin turun saja. Orang tidak malu lagi berbuat curang, nista dan dusta. Tanpa disebut satu per satu apa jenis perbuatannya, masyarakat sudah paham.

Hampir semua jenis perilaku jahat (termasuk korupsi) bermula dari rendahnya rasa malu dalam diri pelakunya. Hilangnya rasa malu membuat kehidupan diliputi banyak permasalahan yang berujung pada munculnya berbagai bencana moral dan sosial.

Kini keadaan telah terbolak-balik. Rasa malu sering diposisikan pada tempat yang tidak tepat. Banyak orang merasa malu terhadap sesuatu yang mestinya tidak memalukan: malu jalan kaki karena jaga gengsi dan takut dianggap melarat. Lebih parah lagi kalau sampai malu berbuat kebaikan.

Penayangan wajah koruptor menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak meniru langkah koruptor. Para pelakunya mungkin sudah kebal dari rasa malu, tapi masyarakat bisa mengambil pelajaran: itu lho akibat korupsi, wajah jeleknya ditonton orang.

Sampai saat ini ada satu pihak pun yang menentang rencana penayangan wajah koruptor. Depkomindo dan Ditjen Bea Cukai dalam rapat dengan jajaran Kejaksaan Agung juga menyepakati rencana penayangan koruptor di televisi, terkait dengan penanganan para pelaku penyelundupan yang sebelumnya dijerat dengan UU No. 10/1995 tentang kepabeanan.

 Komisi penyiaran Indonesia (KPI) dan kalangan DPR juga tidak keberatan dengan rencana Jaksa Agung. Surat edaran kini sedang disusun berisi permintaan agar pimpinan Kejati mengirim sejumlah nama buron kasus korupsi di Indonesia. Dari daerah (buron koruptor) nantinya akan diseleksi apakah layak tayang atau tidak.

Khusus di kawasan pantura, upaya menjerat koruptor juga mulai terasa gregetnya. Setidaknya, lewat pemberitaan media, masyarakat tahu siapa para tersangkanya.

Bahkan kini di Pekalongan sudah terbit majalah DELIK HUKUM yang khusus membongkar indikasi korupsi di daerah. Setidaknya lewat pemberitaan tersebut masyarakat bisa menghirup aroma korupsi di daerahnya sendiri. Apakah nantinya para koruptor di daerah juga akan ditayangkan di televisi, kita tunggu saja perkembangannya.

 

Penulis adalah praktisi pers dan anggota Paguyuban Penulis Pantura, tinggal di Batang.

Dimuat Suara merdeka, 29 Agustus 2006.

 

 

 

 

 

 


Blog EntryOct 18, '06 11:18 PM
for everyone

 

Ramai-Ramai Menebang Pohon Melinjo

Oleh: Kawe Shamudra

 

PENEBANGAN tanaman melinjo (genetum gnemon) belakangan ini marak terjadi di berbagai kecamatan di kabupaten Batang seperti Limpung, Tersono, Bandar, dan Wonotunggal. Bahkan di daerah Pekalongan, penebangan serupa juga terjadi, misalnya di Kecamatan Doro dan Talun.

Dan jika penebangan terus dibiarkan, dikhawatirkan kebun melinjo di kawasan pantura bakal punah. Bahkan predikat Batang sebagai sentra penghasil emping melinjo kelak hanya tinggal nama.

Penebangan liar tersebut merupakan puncak akumulasi dari kekesalan para petani melinjo karena kebunnya tidak mendatangkan hasil memadai, bahkan banyak tanaman melinjo yang tidak berbuah sama sekali. Kalaupun ada yang panen jumlahnya sedikit, tak sebanding dengan lamanya masa tunggu panen (setahun sekali).

Pusonya tanaman melinjo antara lain akibat dari serangan wereng. Hama ini sudah belasan tahun mewabah di Batang maupun Pekalongan dan merusak ratusan hektar kebun melinjo. Para petani melinjo sudah kehilangan harapan.

Secara swadaya para petani mencoba memberantas hama wereng dengan menyemprotkan insektisida, namun selalu gagal. Bahkan kini serangan hama kian menjadi-jadi dan akhirnya dibiarkan begitu saja.

Karena kehilangan harapan, para petani pun menebang pohon melinjo untuk keperluan kayu bakar atau menjualnya pada tengkulak. Tanaman melinjo yang rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun terpaksa dikorbankan satu demi satu. Lahan pun jadi gundul.

Peristiwa tersebut mengingatkan kejadian di tahun 1990-an ketika harga cengkeh melorot drastis, lantas para petani menebangi tanaman cengkeh, meskipun sekarang menyesal setelah harga cengkeh kembali membaik.

Begitulah karakteristik petani yang putus asa dan mengambil jalan pintas dengan cara yang radikal. Sesaat tampaknya mereka menemukan jalan keluar dan mendapatkan keuntungan dari penebangan, meskipun pada kenyataannya mereka telah kehilangan aset yang amat berharga.

Pohon melinjo merupakan jenis tanaman keras yang cocok tumbuh di lereng pegunungan dan dataran tinggi. Selain bernilai ekonomi ekonomi, tanaman ini juga berfungsi menjaga keseimbangan ekologis sebagai penyangga tanah dari ancaman longsor.

Terlepas dari persoalan dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan, tindakan mereka menebangi pohon memang bisa dipahami. Para petani tidak bisa disalahkan, toh yang ditebang adalah pohon miliknya.

Mereka sudah terlanjur putus asa dan kehilangan harapan. Daripada terus-menerus menunggu harapan kosong dari kebun melinjo yang tidak bisa dipanen, mereka memilih menebangi pohon.

Tanaman melinjo dianggap sudah tidak memiliki prospek. Apalagi belakangan ini harga melinjo juga makin murah sehingga usaha emping juga kurang gairah. Para pengrajin emping di kecamatan Limpung juga mengeluhkan harga emping yang terus merosot dan upah buruh yang rendah.

Nasib pengrajin emping dari dulu sampai sekarang tetap mengenaskan, miskin dan jauh dari tingkat sejahtera. Yang bisa kaya dan hidup makmur dari emping melinjo hanyalah para juragan dan tengkulak. Sedangkan petani melinjo dan pengrajin emping hanya jadi pelengkap penderita yang tak jelas nasibnya.

Para penentu kebijakan di daerah sudah saatnya membuka mata terhadap persoalan ini. Predikat Batang sebagai kabupaten penghasil emping tidak cukup hanya sekadar penghias data statistik, namun di masa mendatang harus benar-benar mencerminkan kebanggaan dan kemakmuran yang sesungguhnya.

Harus diakui secara jujur bahwa emping melinjo lahir dari tradisi asli masyarakat Batang dan akhirnya dikenal secara luas sampai terbentuk brand yang begitu kuat bagi Predikat Batang sebagai daerah penghasil emping melinjo merupakan ikon kebudayaan yang terpatri kuat dalam ingatan masyarakat luas. Maka sangat disayangkan jika tradisi tersebut sampai hilang.

 Penebangan tanaman melinjo yang belakangan marak terjadi di Kabupaten Batang merupakan pertanda hilangnya akar tradisi emping melinjo. Sebelum terjadi penebangan besar-besaran, perlu adanya upaya pencegahan. Para petani melinjo perlu dibebaskan dari rasa frustasi dan keputusasaan.

Pemerintah melalui dinas-dinas terkait perlu pro aktif mengadakan pendekatan kepada masyarakat petani melinjo untuk mencari akar persoalan yang sesungguhnya, mengapa mereka sampai hati menebangi tanaman melinjo. Dan yang tak kalah penting adalah memperbaiki tata niaga emping melinjo agar petani tidak merasa dirugikan oleh rendahnya harga biji melinjo.

 

Penulis adalah praktisi pers dan anggota Komunitas Pena Batang.

 

Dimuat Suara Merdeka, 31  Agustus 2006.

 

WACANA PANTURA

Oleh: Istikhanah

 

Penebangan Pohon Melinjo Menusuk Perasaan

Penebangan pohon melinjo di kawasan pantura sebagaimana terurai dalam Wacana Pantura (Suara Merdeka, 31/8) memang cukup menyedihkan, dan itu merupakan bagian dari kenyataan yang terjadi akibat kesalahan mengelola aset alam.

Sudah sepuluh tahun lebih saya bergelut dengan dunia emping melinjo dan menemukan pengalaman empiris di lapangan, betapa sulitnya perjuangan untuk mengembangkan sektor kerajinan ini, apalagi jika harus membela kepentingan para pengrajin (yang umumnya para ibu rumah tangga) dan para petani melinjo.

Memang kini telah terjadi ironi yang menusuk perasaan. Pada saat daerah lain (Banten, Lampung, Bantul, dan Kupang) sedang mengembangkan sektor biji melinjo, di Batang justru telah terjadi penebangan tanaman melinjo. Tapi mau apa lagi kalau kondisinya memang demikian. Masyarakat Batang barangkali sudah mulai jenuh dengan emping melinjo yang dianggap tidak bisa menyejahterakan kehidupannya.

Sebenarnya semua itu tidak lepas dari “penyakit” (kelemahan) para pengrajin emping dan petani melinjo sendiri yang selama ini enggan bersatu. Mereka lebih senang jalan sendiri-sendiri dan kurang terbuka dalam menghadapi persoalan, akibatnya tidak berdaya menghadapi sergapan kaum tengkulak yang suka membanting-banting harga emping seenaknya.

Para pengrajin emping gagal menguasai pasar dan tidak bisa menentukan harga. Mereka cuma bisa membuat emping, tapi yang mengekspor adalah para broker dan tengkulak yang hanya cari untung untuk diri sendiri.

Seandainya para pengrajin mau konsisten dan bersatu dalam wadah semacam koperasi dan menata manajemennya secara baik, mungkin kondisinya akan lain.

 

Ilmu Emping

Lepas dari semua itu, ada sisi menarik yang perlu saya kemukakan di sini berkenaan dengan sejarah lahirnya emping melinjo sampai akhirnya menjadi ilmu yang bisa ditularkan ke berbagai daerah secara gratis, bahkan dikenal sampai manca negara.

Masyarakat tahu, Desa Ngaliyan Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang memang dikenal sebagai sentra kerajinan emping melinjo, dan di desa ini pula pertama kali emping melinjo dibuat sekitar satu abad yang lalu.

Kini ribuan pengrajin emping tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten Batang, bahkan telah merambah ke berbagai daerah seperti Bantul, Serang dan luar Jawa.

Sisi humanis yang tidak bisa diremehkan dari emping melinjo adalah keterlibatan ribuan wanita desa yang begitu tekun menggeluti kerajinan jenis krupuk gurih ini. Sektor ini sesungguhnya telah membuka ruang usaha bagi para ibu rumah tangga untuk membantu suami menambah penghasilan keluarga.

Emping melinjo telah menarik perhatian banyak orang. Masyarakat dari berbagai daerah merasa penasaran dan ingin mempelajari tehnik membuat emping yang tampaknya sangat sederhana namun tidak mudah dipraktekkan. Dari Desa Ngaliyan ilmu emping menyebar ke mana-mana. Para pengrajin saling berbagi ilmu kepada yang lain.

Ada cerita menarik di tahun 1980-an, ketika sejumlah pengrajin emping dari Ngaliyan diundang ke Yogyakarta untuk membagikan ilmunya pada penduduk di sana. Yogyakarta (tepatnya Bantul) saat itu memang dikenal penghasil biji melinjo, namun penduduk di sana tidak bisa membuat emping. Berawal dari  transfer ilmu emping itulah kini banyak warga Bantul yang pandai membuat emping.

Ilmu emping adalah ilmu terbuka dan bisa dipelajari siapa saja. Dari dulu sampai sekarang penemuan kerajinan emping melinjo tidak pernah dipatenkan.  Ilmu ini sudah menjadi milik masyarakat dan berkembang secara sporadis selama beberapa dekade karena adanya semangat masyarakat para pengrajin untuk berbagi ilmu.

Persoalan apakah para pengrajin bisa hidup makmur atau tidak, itu merupakan persoalan yang berdiri sendiri. Yang pasti, temuan kerajinan emping telah memberi kontribusi positif bagi masyarakat sehingga mereka tergerak untuk mengenali potensi alam di sekelilingnya.

Sebelum kerajinan emping dikembangkan, pada awalnya biji melinjo adalah makhluk yang tak berguna. Di Ngaliyan sendiri, biji melinjo konon dulu hanya dijadikan mainan anak-anak gembala.

Di luar Jawa biji melinjo nyaris tidak ada harganya dan tercecer sia-sia di hutan belantara. Pemandangan ini saya lihat ketika saya mengunjungi daerah Kupang beberapa waktu lalu atas undangan Kepala Dinas Pertanian Propinsi NTT. Di sana saya lihat ratusan hektar hutan melinjo belum dimanfaatkan lantaran keterbatasan sumber daya manusia.

Yang tak kalah menarik adalah semangat para pemuda Desa Honug (kecamatannya saya lupa) yang begitu bersemangat mengikuti pelatihan pembuatan emping.  Mereka rela jalan kaki menyusuri hutan belantara selama dua hari dua malam hanya untuk belajar bagaimana cara membuat emping. Sungguh mengharukan.

 

 

Penulis adalah Ketua Kelompok Pengrajin Emping Melinjo “Tani Rejo” Ngaliyan, Limpung, Batang.

 

Alamat: Desa Ngaliyan, Kec. Limpung, Batang 51271

 

Dimuat Suara Merdeka, 28 September 2006 Rubrik Wacana Pantura.

 


Blog EntryOct 18, '06 11:10 PM
for everyone

 

Prospek Desa Wisata di Batang

Oleh: Kawe Shamudra

 

Di tengah-tengah merosotnya daya tarik obyek wisata kawasan pantai akibat abrasi dan pencemaran lingkungan, masyarakat sepertinya membutuhkan obyek wisata alternatif berbasis gunung dan alam pedesaan.

Wajah desa merupakan sebuah gambaran tentang ketergantungan masyarakat dengan alam di sekelilingnya. Alam yang memberi spirit dan mampu menghadirkan ketenteraman sekaligus menyejahterakan.

Gagasan pengembangan dan pencacangan Desa Wisata di kabupaten Batang sebenarnya sudah bergaung cukup lama. Desa yang dilirik dan bakal dijadikan obyek wisata antara lain Sodong, Silurah dan Gringgingsari, semuanya masuk wilayah dataran tinggi di kecamatan Wonotunggal.

Tiga desa yang berlokasi di lereng perbukitan Rogokusumo ini memang memiliki ciri khas berbeda. Sodong memiliki panorama alam yang indah: perbukitan, sungai dan dikenal juga sebagai sentra buah salak dan kerajinan anyaman bambu. Sementara Gringgingsari dan Silurah lebih dikenal dengan situs arkeologinya dan bangunan-bangunan peninggalan jaman dahulu seperti masjid tua, arca ganesha, dan makam wali.

Dan yang tak kalah menarik, warga Desa Gringgingsari memiliki tradisi menjaga air sungai agar tetap suci sebagai bagian dari kosmologi mereka. Bagi warga Gringgingsari, mengotori air yang mengalir di parit itu dianggap sebuah pelanggaran adat yang wajib dijauhi.

Tetapi, kapan tiga desa tersebut benar-benar menjadi obyek wisata handal, mendatangkan profit, sekaligus menghadirkan brand  bagi pariwisata di Kabupaten Batang?

 Selama ini tiga desa tersebut tampil apa adanya dan hanya dikunjungi turis-turis domestik yang nyaris tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi pemerintah maupun masyarakat, karena untuk masuk dan menjelajahi wilayah ini memang tidak dipungut biaya alias gratis.  Padahal sebuah obyek wisata mestinya membawa dampak ekonomi/ kesejahteraan bagi warga sekitar dan juga menambah kas daerah.

Harus diakui, pemerintah dan masyarakat sekitar belum sepenuhnya bisa menggali dan memanfaatkan  potensi wisata di wilayahnya. Atribut-atribut wisata juga masih amat terbatas, hanya ada peta dan petunjuk jalan yang dibuat sederhana dan promosi kecil-kecilan lewat brosur.

Di masa mendatang rasanya perlu ada langkah serius untuk menangani dan mengelola aset desa wisata ini ini agar benar-benar memiliki nilai jual yang sepadan dengan daya tariknya. Apalagi kini sudah tersedia modal dasar berupa jalan aspal sepanjang 10 km lebih yang cukup representatif, sehingga para pengunjung bisa leluasa mengemudikan kendaraannya sampai puncak.

Yang perlu dikerjakan sekarang adalah memoles apa yang sudah ada agar wisata alam ini bisa tampil lebih menarik. Ibarat gadis manis, masih perlu dipoles lagi agar tambah menarik dan memikat banyak orang.

Kawasan yang cukup menarik dan perlu dipoles antara lain kawasan puncak, yakni jalur dari arah utara masuk Desa Sodong sampai Dukuh Silegok, dilanjutkan sampai Desa Gringgingsari. Jalur lainnya adalah dari Desa Sodong menuju Desa Silurah.

Jalur berkelok-kelok ini menarik karena dihiasi perbukitan, tebing curam dan hutan pinus. Pohon-pohon di kanan-kiri jalan perlu ditata sedemikian rupa agar tampak eksotis. Demikian juga perbukitan yang sering berkabut, tebing-tebing, sungai dan air terjun  (berair jernih), semuanya bisa ditata menjadi sebuah taman raksasa yang indah dipandang mata. Apalagi dari kawasan ini juga terlihat panorama kawasan pantai.

Bahkan di daerah puncak pada masa mendatang bisa dikembangkan menjadi kawasan highlands yang dilengkapi dengan tower, gedung pertemuan, area perkemahan, kereta luncur dan lain-lain. 

Dengan kondisi alam yang bersih dan tertata rapi, maka desa ini secara otomatis menjadi tujuan wisata. Dari situlah penghasilan masyarakat bisa bertambah. Mereka bisa membuka kedai dan menggelar aneka dagangan dari buah-buahan sampai kerajinan tangan.

Dari sini pula sesungguhnya konservasi lingkungan terwujud, yakni pelestarian lingkungan yang berbasis kesadaran masyarakat, yang secara riil dapat meningkatkan pendapatan penduduk. Karenanya, masyarakat sekitar perlu dilibatkan secara langsung karena mereka sendiri yang kelak akan menikmati hasilnya.

Kita bisa mencontoh keberadaan desa-desa wisata di Yogyakarta, tepatnya di Dusun Ngamboh, Desa Margorejo, kecamatan Tempel, Sleman. Warga masyarakat di sana berhasil memelihara kekayaan desa sebagai penghidupan bagi mereka.

Bahkan Gubernur Sri Sultan Hamengkubuwono X mengaku kagum atas kesadaran masyarakat setempat untuk mengubah sebuah desa yang kotor dan tak terawat menjadi kebun yang asri, lengkap dengan kolam ikan dengan memanfaatkan aliran sungai. Memang di sana ada seorang penggagas desa lestari, sekaligus pekerja lapangan yang gigih menjalankan tugasnya.

 

Kawe Shamudra adalah penulis lepas dan anggota Komunitas Pena Batang

Dimuat Suara Merdeka, 14 Agustus 2006.


Blog EntryOct 18, '06 11:04 PM
for everyone

Menata Reklame Jalur Pantura

Oleh: Kawe Shamudra

 

JIKA Anda melintasi jalur pantura, cobalah amati berbagai jenis reklame bertebaran di kanan kiri jalan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bahkan semenjak jalur pantura terbagi menjadi dua ruas, ruang reklame menjadi lebih strategis. Tapil di tengah-tengah pembatas jalan.

Papan-papan reklame itu tampil mencolok dan saling berlomba merebut perhatian publik. Bagi para penumpang kendaraan, iklan-iklan tersebut, selain berfungsi sebagai media informasi, juga bisa dijadikan semacam hiburan. Dari dalam kendaraan, para penumpang bisa menikmati gambar-gambar berukuran jumbo.

Itulah reklame khas jalur pantura, yang hadir mengiringi laju kapitalisme dan perkembangan ekonomi. Semua produk ditawarkan di sini, mulai sabun kecantikan, jamu, hotel hingga lap pel.

Semua itu tidak lepas dari keterlibatan pemerintah daerah dalam memberi rekomendasi terhadap segala bentuk tawaran iklan dari berbagai perusahaan, sepanjang mampu memberi kontribusi memadai. Artinya, pemerintah berusaha memanfaatkan kapling yang ada untuk menambah kontribusi kas daerah.

Kebetulan di sepanjang jalur pantura banyak tempat-tempat strategis yang bisa dimanfaatkan untuk memasang reklame, seperti tikungan, kawasan rest area Alas Roban, pangkalan truk, terminal, pasar tradisional dan lain-lain.

Memasang iklan adalah hak perusahaan untuk mencari dukungan publik dalam upaya merebut pangsa pasar sebanyak-banyaknya. Dan pada prinsipnya, pihak perusahaan bebas memasang iklan di mana saja sesuai peraturan yang berlaku.

Mengapa reklame perlu dipasang di pinggiran jalan, termasuk di kawasan rawan sekalipun? Pertanyaan ini tidak lepas dari filosofi iklan itu sendiri yang secara psikologis berusaha menciptakan keterkejutan. Dalam pandangan Jefkins, iklan adalah sebuah pendekatan persuasif kepada calon konsumen untuk mengenalkan produk dalam bentuk barang atau jasa.

Jefkins berusaha mendefinisikan iklan dalam pengertian yang luas dan fleksibel. Definisi tersebut memberikan ruang yang tidak terbatas kepada para desainer iklan untuk menfotmat karya iklannya secara kreatif, termasuk kemungkinan memasang reklame di jalan raya.

Pemasangan reklame di kawasan jalan raya merupakan fenomena yang cukup menarik. Memang reklame di kawasan jalan raya  memiliki kekuatannya sendiri sebagai media penyampai pesan. Pihak perancang dan pemasang iklan tentu punya alasan khusus, mengapa memilih jalan raya sebagai medium pengenalan produk.

Jalan raya merupakan kawasan padat kendaraan. Orang-orang dari berbagai penjuru yang melintasi jalur ini adalah pangsa pasar potensial yang tak bisa dilewatkan untuk meraih keuntungan. Para pakar periklanan memahami betul soal itu.

Tapi haruskan kepentingan kapitalisme mengalahkan kepentingan sosial? Jalan raya merupakan ruang publik untuk memenuhi kepentingan sosial. Sementara iklan hanyalah seperangkat alat yang mewakili kepentingan komersial segelintir orang.   Kenyamanan menggunakan jalan tidak boleh diganggu oleh kepentingan-kepentingan pragmatis.

 

Plus Minus

Kian semaraknya reklame di jalur pantura tentu saja ada plus minusnya. Nilai plusnya (tentu saja) pendapatan daerah jadi bertambah. Makin banyak reklame yang dipasang, dana yang masuk ke kas daerah semakin banyak. Namun sisi minusnya, tampilan iklan yang terlalu dominan menambah kesemrawutan, bahkan dapat mengganggu keamanan berlalu lintas.

Para pengemudi yang kurang hati-hati bisa saja terganggu oleh tampilan iklan yang terpampang di hadapannya. Dan satu hal yang barangkali luput dari perhatian, tampilan reklame yang lebar dan mencolok ternyata mampu mengalahkan keberadaan rambu-rambu lalu lintas milik polisi yang dipasang apa adanya.

Padahal kita tahu, jalur pantura termasuk kawasan rawan kecelakaan. Para sopir perlu banyak diingatkan, salah satu diantaranya melalui rambu-rambu lalu lintas dan pesan-pesan humanis agar hati-hati mengemudikan kendaraan.

Memang selama ini belum ada penelitian tentang keterkaitan antara iklan dengan kasus kecelakaan di jalan raya. Namun demikian bukan berarti pengungkapan masalah ini tidak berguna.

Untuk ke depan barangkali perlu diadakan penataan kembali peraturan tentang pemasangan reklame di wilayah jalan raya, khususnya jalur pantura. Paling tidak ada semacam seleksi yang agak ketat, lokasi mana kira-kira yang boleh atau tidak boleh dipasang reklame.

Penulis  adalah  anggota Komunitas Pena Batang. 

 

Alamat: Limpung 03/II Batang 51271

No. Rekening BNI Kantor Capem Batang

0042562880

 


Blog EntryAug 6, '06 12:22 AM
for everyone
 
Wahai Puisi, Jangan Terus Sembunyi

Oleh: Kawe Shamudra


DALAM jagad seni sering digelar acara-acara yang melibatkan publik semacam pameran lukisan, pameran patung, dan pameran buku. Tapi rasanya masih jarang (atau mungkin belum pernah ada) pameran puisi. Apakah puisi dianggap sebagai karya seni remeh sehingga tidak layak dipamerkan?

Puisi termasuk jenis karya seni (teks) yang secara fisik sangat sederhana bentuknya dibanding karya-karya lain seperti novel, cerpen maupun cerita bersambung. Artinya, sepanjang-panjangnya puisi masih lebih pendek dari cerpen yang paling pendek sekalipun. Bahkan dengan alasan-alasan tertentu, para penyair ada kalanya sangat hemat dalam menggunakan kata-kata. Menulis puisi hanya dengan beberapa patah kata.

Dengan alasan kepraktisan tadi, maka pameran puisi bisa dijadikan alternatif sebagai media pengenalan dan pembelajaran sastra kepada masyarakat. Bukan sesuatu yang sulit untuk memajang puisi di tempat-tempat umum seperti pasar, alun-alun, tempat-tempat hiburan atau dalam acara-acara berformat kebudayaan.

Selama ini puisi terkesan masih menjadi karya tersembunyi dan hanya dikenal oleh komunitas yang sangat terbatas. Atau mungkin hanya sempat nebeng sejenak di media cetak, kemudian terbuang dan dilupakan orang. Puisi hanya dikenal dan digandrungi dalam wilayah yang sempit.

Pada jaman sekarang ini, pameran puisi rasanya bukan sebuah kemustahilan. Siapa tahu puisi, puisi yang dipamerkan bisa menjadi semacam katarsis dan hiburan gratis bagi masyarakat.

Sebagai bagian dari karya seni, kehadiran puisi diharapkan mampu menghadirkan makna yang bermanfaat dan bisa diserap langsung bagi masyarakat luas. Sebab betapa memelasnya jika sebuah puisi (yang bagus) namun hanya dibaca orang-orang tertentu.

Sudah saatnya para penyair lebih membuka diri untuk tampil ke hadapan publik. Bukan jamannya lagi para penyair hanya berkutat pada sangkar privacynya yang egois dan asing. Para penyair boleh bangga bila puisinya dimuat di media cetak. Namun apa artinya jika hanya dibaca sedikit orang?

Jika ini yang terjadi, maka puisi hanyalah menjadi ide yang gagal menyentuh ranah publik. Puisi baru bisa dikatakan berhasil kalau bisa dibaca dan dinikmati orang banyak di luar komunitas penyair.

Eksistensi penyair masih dipertanyakan manakala ia belum berani beranjak dari lingkaran kesendirian dan membuat gebrakan-gebrakan yang menyentak kesadaran publik. Penyair Umbu Landu Paranggi pernah menggebrak dengan keberaniannya menghidupkan komunitas seniman di Malioboro. Rendra pernah melejit dengan bengkel teaternya. Taufiq Ismail dkk dengan safari sastranya. Widji Tukul dengan puisi-puisi perlawanannya.

Itulah contoh-contoh gebrakan para penyair yang berjuang agar karya-karyanya bergaung dan didengar publik. Sebab apa artinya sebuah puisi kalau hanya dinikmati sendiri tanpa memberi kesempatan pada pihak lain untuk menikmati dan mengapresiasikannya.

Mempublikasikan puisi lewat buku atau media cetak adalah lumrah, biasa. Tapi rasanya ada sesuatu yang lain ketika para penyair mau dan punya keberanian untuk menawarkan karya-karyanya dalam bentuk pameran puisi. Kalau para pelukis berani keliling kota memamerkan lukisannya, kenapa para penyair enggan memamerkan puisinya?

Secara tehnis pameran puisi lebih gampang dijalani daripada pameran lukisan. Para penyair cukup membentuk sebuah panitia khusus yang mengkoordinir dan mengatur pelaksanaan pameran. Toh yang namnya pameran puisi tidak harus dirancang dengan tampilan yang wah dan mewah. Ibaratnya, di alun-alun atau di trotoar pinggir jalan pun pameran puisi bisa digelar.

Yang penting, dalam sebuah pameran puisi adalah esensinya, bahwa penyair itu benar-benar ada dan punya karya yang bisa dipertanggung jawabkan ke hadapan publik. Persoalan karya tersebut diterima atau tidak oleh masyarakat bukan menjadi target utama. Toh, dengan menggelar pameran puisi, para penyair secara ekonomis tidak dirugikan. Malah justru memperoleh keuntungan batin karena bisa bertemu/ mempererat persaudaraan dengan sesama penyair.

Mungkin saja ada semacam ketakutan-ketakutan yang sifatnya individual. Boleh jadi para penyair bertanya dalam hati, apakah pameran puisi ada yang menonton? Apakah masyarakat tidak akan mencibir dan mentertawakan ketika melihat bait-bait puisi terpampang di tempat umum? Apakah masyarakat bisa memahami kata-kata yang dirangkai para penyair?

Ketakutan-ketakutan semacam itu masih wajar karena, bagaimanapun, pameran puisi hingga saat ini belum menjadi kebiasaan.Padahal kalau kita mau jujur, kegiatan semacam itu merupakan lahan strategis untuk mengangkat dunia sastra kita.

Dalam sebuah pameran puisi, yang terpenting adalah adanya keyakinan dalam diri para penyair, bahwa pameran bukan sekadar unjuk kebolehan, namun sebuah upaya untuk mendekatkan sastra kepada masyarakat. Pameran puisi merupakan langkah rasional dan sangat praktis (mudah) untuk dipraktekkan.

Puisi-puisi yang ditampilkan tidak harus ditulis lewat spanduk, tapi mungkin cukup ditulis di atas kertas manila atau asturo, lalu dipajang di tempat umum. Selain itu panitia mungkin perlu menyediakan foto copy puisis-puisi yang dipamerkan untuk persiapan, siapa tahu ada penonton yang berminat mengoleksi puisi tersebut. Selain itu panitia bisa sekaligus menjual buku karya-karya para penyair yang bersangkutan.

Atau pameran puisi itu bisa ndompleng pada acara-acara lain seperti pasar murah, festival/ pagelaran seni dan kegiatan kebudayaan lainnya. Bila perlu dalam acara pameran atau promosi pembangunan, para penyair membuka stand khusus untuk memamerkan puisi-puisinya.

Banyak manfaat bisa diserap dari pameran puisi. Yang pasti, para penyair bisa berkomunikasi dan berdialog langsung dengan masyarakat. Masyarakat menjadi semakin dekat dengan penyair, selanjutnya belajar mengenal dan memahami puisi sebagai bagian dari khazanah kebudayaan. Para penyair pun tidak lagi merasa sendiri dan terasing dengan dunia luar.

Sudah waktunya puisi hadir secara wajar untuk dikenali masyarakat. Selama ini kehadiran puisi dianggap sosok asing yang hanya digeluti dan dilirik kalangan terbatas. Mengapa? Bukan karena masyarakat membenci puisi, tapi boleh jadi para penyairnya sendiri yang terlalu sombong dan menjaga jarak dengan masyarakat sehingga enggan untuk mendekatinya. Para penyair bisa besar karena, disamping berkarya, juga berusaha berinteraksi dengan masyarakat.

Jika para penyair tetap memilih hidup menyendiri, maka tidak akan pernah bisa merebut hati masyarakat. Mungkin saja si penyair punya puisi bagus dan penuh makna, tapi tak bernilai apa-apa jika hanya disimpan dalam laci kesendirian. Sebaliknya, puisi-puisi yang lahir dari para mubaligh, pastor, artis, politisi boleh jadi lebih cepat meresap dalam hati masyarakat karena mereka gencar mengadakan publikasi. Lantas, siapakah yang patut disayangkan?


Kawe Shamudra, penulis lepas dan anggota Komunitas Pena Batang